Rabu, 28 Agustus 2013

Laporan Penelitian Deiksis dalam Bahasa Paser

DEIKSIS DALAM BAHASA PASER PADA PERCAKAPAN MAHASISWA ASRAMA PUTRI PETONG BANJARMASIN
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pragmatik
Kode AKBB 163


DOSEN
Prof. Dr. Jumadi, M.Pd.

OLEH
Nurhidayati
NIM A1B110217


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
JUNI 2013




BAB II
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

      Berdasarkan hasil observasi, peneliti berhasil mengumpulkan dan mencatat kata-kata atau kalimat yang diucapkan oleh tiga orang mahasiswa. Namun bukan berupa percakapan bahasa Indonesia tetapi hanya yang dituturkan oleh tiga orang mahasiswa dalam bentuk bahasa Paser.
      Pada hari Minggu, 12 Mei 2013 diperoleh deskripsi data sebagai berikut.
(Situasi menonton televisi di ruang tengah asrama)
A   :  Ise yo ite ene? (apa yang di liat itu?)
B    : Film usang, pemain yo Meriam Belina. (Film lama, pemainnya Meriam Belina)
A   : Ene sundok pian tayang pore. (Itu sudah pernah tayang kemarin)
C   : Kain belo pian mite film endo. Belo tau kesah yo. (Kami belum pernah melihat film ini. Tidak tau ceritanya.
A   : Manin ene nua yo tayang. Belo keo film makse ene be? Moko film endo?  (Besok itu lagi yang tayang. Tidak ada film selain ini kah? Kenapa film ini?)
B    : Sejarah endo tau be iko sejarah perfilman Indonesia. (Sejarah ini taulah kamu sejarah perfilman Indonesia.
C   : Mone remot? (Mana remot?)
A   : Mo lane hehehe. (di Sana hehehe)

      Pada hari senin, 13 Mei 2013 diperoleh deskripsi data sebagai berikut.
(Situasi pada saat memasak di dapur asrama)
A   : Diang ise iko po pasar? (Dengan siapa kamu ke pasar?)
B    : Sederai ka. Kenone? (Sendiri saja. Kenapa?)
A   : Belo keoka. Ngunti tingen. (Tidak apa-apa. Bertanya saja)
B    : Masak ise? (Masak apa?)
A   : Sayur bening ndo. Moli ise iko mo pasar? (Sayur bening ini. Beli apa kamu kepasar?)
B    : Moli esa diang piak. (Beli ikan dengan ayam)
A   : Kakan pepone dero? Aku kakan umpat po pasar kakan moli lombok diang tomat. (Mau kemana mereka? Aku mau ikut ke pasar mau beli lombok dengan tomat)

Pada hari selasa, 14 Mei 2013 diperoleh deskripsi data sebagai berikut.
(Situasi sedang santai di ruang tamu asrama)
A   : Woooi…gawi tugas aut, malah bekesah. (Woooi…kerjakan tugas, malah bercerita)
B    : Aku molo ndo bayu nggawi hahaha…(Aku siang ini baru mengerjakan hahaha…)
C   : Aku malom ndo bayu nggawi apan kuli istirahat ena sundok. (Aku malam ini baru mengerjakan supaya bisa istirahat kalau sudah.
D   : Manin aku nggawi hahaha… (Besok aku mengerjakan hahaha)
B    : Parah pea erai ndo. (Parah anak satu ini)
A   : Aku kakan nggawi tugas mo mendo, nang bekesah de! (aku mau ngerjakan tugas di sini, jangan bercerita ya!)
D   : Mo lane ka iko nggawi tugas ena belo kakan kringo kain bekesah! (Di sana saja kamu mengerjakan tugas kalau tidak mau mendengar kami bercerita)

A.     Deiksis dalam Bahasa Paser pada Percakapan Mahasiswa yang Muncul di Asrama Putri Petong Banjarmasin
         Berdasarkan pengamatan peneliti deiksis dalam bahasa Paser yang muncul adalah ene (itu), endo (ini), mo lane (di sana), mo mendo (di sini), aku (aku), iko (kamu), dero (mereka), kain (kami), po pasar (ke pasar), mo pasar (di pasar), pore (kemarin), molo (siang), malom ndo (malam ini), dan manin (besok). Deiksis mengacu pada bentuk yang terkait dengan penutur, yang dibedakan secara mendasar antara ungkapan-ungkapan deiksis ‘dekat penutur’ dan jauh dari penutur. Menurut     George Yule dalam Wahyuni (2006: 14) dalam bahasa Inggris, dekat penutur atau istilah-istilah proksimal, adalah ini, di sini, sekarang, sedangkan jauh dari penutur atau istilah-istilah distal, adalah itu, di sana, pada saat itu. Sejalan dengan pernyataan tersebut, dalam bahasa Paser juga terdapat istilah-istilah dekat penutur atau proksimal yakni endo (ini), mo mendo (di sini), sedangkan yang jauh dari penutur atau istilah-istilah distal dalam bahasa Paser yang terdapat pada percakapan di atas adalah ene (itu), mo lane (di sana). Untuk menafsirkan deiksis-deiksis itu, semua ungkapan bergantung pada penafsiran penutur dan pendengar dalam konteks yang sama.
         Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam bahasa Paser terdapat ungkapan deiksis seperti ene (itu), endo (ini), mo lane (di sana), mo mendo (di sini), aku (aku), iko (kamu), dero (mereka), kain (kami), po pasar (ke pasar), mo pasar (di pasar), pore (kemarin), molo (siang), malom ndo (malam ini), dan manin (besok).

B.     Jenis-Jenis Deiksis dalam Bahasa Paser pada Percakapan Mahasiswa yang Muncul Di Asrama Putri Petong Banjarmasin
Berdasarkan pengamatan peneliti deiksis dalam bahasa Paser terbagi menjadi beberapa jenis yakni sebagai berikut.
1.      Deiksis Persona
         Deiksis persona dalam percakapan mahasiswa yang muncul dalam bahasa Paser adalah aku (aku), iko (kamu), dero (mereka), dan kain (kami). Deiksis persona dalam bahasa Paser yang muncul pada percakapan mahasiswa asrama Putri Petong terbagi menjadi tiga yaitu kata ganti orang pertama, kata ganti orang kedua, kata ganti orang ketiga. Deiksis kata ganti orang pertama tunggal yaitu aku (aku), deiksis kata ganti orang pertama jamak yaitu kain (kami), deiksis kata ganti orang kedua tunggal iko (kamu), dan deiksis kata ganti orang ketiga adalah dero (mereka).
         Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga seperti yang sudah dijelaskan di atas. Pertama ialah orang pertama, yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya, misalnya, aku (aku), dan kain (kami). Kedua ialah orang kedua, yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama, misalnya iko (kamu). Ketiga ialah orang ketiga, yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu, baik hadir maupun tidak, misalnya dero (mereka).
         Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa deiksis persona yang muncul dalam percakapan mahasiswa di asrama Putri Petong Banjarmasin adalah aku (aku), iko (kamu), dero (mereka), dan kain (kami). Peran peserta dapat dibagi menjadi tiga yaitu kata ganti orang pertama, kata ganti orang kedua, dan kata ganti kata orang ketiga.

2.      Deiksis Tempat
         Deiksis tempat dalam percakapan mahasiswa yang muncul dalam bahasa Paser adalah ene (itu), endo (ini), mo lane (di sana), mo mendo (di sini), dan mo pasar (di pasar). Ene (itu) pada kalimat percakapan di atas diasosiasikan dengan benda/ barang yang berada atau bergerak keluar dari jangkauan pandangan. Maksud ene (itu) pada kalimat Ise yo ite ene? (apa yang di liat itu?) adalah penunjukan terhadap tayangan televisi yang berada di luar jangkauan pandangan secara langsung. Penutur tidak berada pada tempat penunjukkan tersebut. Endo (ini) pada kalimat Moko film endo? (kenapa film ini?) merupakan penunujukkan terhadap film yang sedang mereka tonton di televisi ketika itu. Demikian juga dengan kata mo lane (di sana) yang merupakan penunjukkan ke luar jangkauan pandangan, berada pada tempat yang jauh. Mo mendo (di sini) pada kalimat Aku kakan nggawi tugas mo mendo, nang bekesah de! (aku mau ngerjakan tugas di sini, jangan bercerita ya!) artinya kata Mo mendo (di sini) merupakan penunjukan tempat yang dekat saat itu yaitu ingin mengerjakan tugas di ruang tamu. Mo pasar (di pasar) pada kalimat Moli ise iko mo pasar? (beli apa kamu di pasar?) merupakan penunjukan tempat di luar jangkauan pandangan penutur.           
         Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa deiksis tempat yang muncul pada kalimat percakapan mahasiswa di asrama Putri Petong adalah ene (itu), endo (ini), mo lane (di sana), mo mendo (di sini), dan mo pasar (di pasar). Untuk mengetahui deiksis tempat seseorang perlu mengetahui konteks seorang penutur agar dapat memahami apa yang dimaksud oleh penutur.

3.      Deiksis Waktu
         Deiksis tempat pada percakapan mahasiswa dalam bahasa Paser yang muncul adalah pore (kemarin), molo (siang), malom ndo (malam ini), dan manin (besok). Pore (kemarin) yang terdapat pada kalimat Ene sundok pian tayang pore (Itu sudah pernah tayang kemarin) secara deiksis kata Pore (kemarin) berada satu hari lebih dulu setelah ditayangkannya film yang menjadi percakapan mahasiswa di asrama Putri Petong. Kata molo yang berarti siang pada kalimat Aku molo ndo bayu nggawi (Aku siang ini baru mengerjakan) menunjukkan deiksis waktu pada saat itu (siang itu) akan dikerjakan dengan segera. Kata Manin (besok) menunjukan deiksis waktu setelah hari ini, yang berarti besok.
      Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa deiksis tempat yang muncul pada kalimat percakapan mahasiswa di asrama Putri Petong adalah pore (kemarin), molo (siang), malom ndo (malam ini), dan manin (besok). Landasan psikologis dari deiksis waktu sama dengan landasan psikologis deiksis waktu. Kita dapat memperlakukan kejadian-kejadian waktu sebagai objek yang bergerak ke arah kita (ke dalam pandangan) atau bergerak menjauh dari kita (di luar pandangan).





Sabtu, 24 Agustus 2013

My Pet

Hasil jepret-jepret :D
ssst ada yang lagi bobo :)
Lagi asiik bobo :D
nakal 
ini saudaranya yang sudah pergi :(



Sabtu, 09 Maret 2013

KOHESI DAN KOHERENSI


KOHESI DAN KOHERENSI WACANA

A.    Pengertian Kohesi
         Kohesi adalah hubungan antarbagian dalam teks yang ditandai penggunaan unsur bahasa. Konsep kohesi pada dasarnya mengacu kepada hubungan bentuk, artinya unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh (Mulyana, 2005: 26). Contoh kohesi adalah sebagai berikut.
Listrik mempunyai banyak kegunaan. Orang tuaku berlangganan listrik dari PLN. Baru-baru ini tarif pemakaian listrik naik 25%, sehingga banyak masyarakat yang mengeluh. Akibatnya, banyak pelanggan listrik yang melakukan penghematan. Jumlah peralatan yang menggunakan listrik sekarang meningkat. Alat yang banyak menyedot listrik adalah AC atau alat penyejuk udara. Di kantor-kantor sekarang penggunaan alat penyejuk udara itu sudah biasa saja, bukan barang mewah.
Contoh wacana di atas dikatakan kohesif, karena menggunakan alat kohesi pengulangan, misalnya listrik yang diulang beberapa kali. Namun, paragraf tersebut tidak padu karena bagian-bagian paragraf itu tidak mempunyai kepaduan secara maknawi.

B.  Pengertian Koherensi
      Koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh (Brown dan Yule dalam Mulyana, 2005: 30).
Contoh:

(a)    Buah Apel ( Apple ) adalah salah satu buah yang sangat tidak diragukan kelezatan rasanya. (b) Menurut beberapa penelitian dibalik kelezatan dari rasa buah apel ternyata juga mengandung banyak zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita. (c) Untuk itu sangatlah penting untuk mengkonsumsi buah    apel. (d) Buah Apel memiliki kandungan vitamin, mineral dan unsur lain seperti serat, fitokimian, baron, tanin, asam tartar, dan lain sebagainya. (e) Dengan kandungan zat-zat tersebut buah apel memiliki manfaat yang dapat mencegah dan menanggulangi berbagai penyakit. (f) Berikut ini adalah beberapa manfaat buah apel bagi kesehatan yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber  yaitu buah apel dapat mencegah penyakit asma, dapat mengurangi berat badan,  melindungi tulang, menurunkan kadar kolesterol, mencegah kanker hati, kanker paru-paru, kanker payudara, kanker usus, mengontrol diabetes, membersihkan dan menyegarkan mulut.

Bagian-bagian pada wacana di atas saling mempunyai kaitan secara maknawi, kalimat di atas menjelaskan secara rinci zat-zat dan manfaat yang terkandung dalam buah apel. Wacana itu termasuk wacana padu karena hampir setiap kalimat berhubungan padu secara maknawi dengan bagian lain. Selain itu, wacana itu juga kohesif. Ada beberapa kata yang diulang (buah apel pada setiap kalimat). Jadi, wacana itu harus kohesif dan dan koherensif. Bahkan keterpaduanlah (koherensi) yang harus diutamakan.

C. Piranti Kohesi

      Menurut Halliday dan Hassan (1976), unsur kohesi terbagi atas dua macam, yaitu unsur leksikal dan unsur gramatikal. Piranti kohesi gramatikal merupakan piranti atau penanda kohesi yang melibatkan penggunaan unsur-unsur kaidah bahasa. Piranti kohesi leksikal adalah kepaduan bentuk sesuai dengan kata.

1.      Piranti Kohesi Gramatikal
Pada umumnya, dalam bahasa Indonesia ragam tulis, digunakan piranti kohesi gramatikal seperti berikut.

a.      Referensi
Referensi berarti hubungan antara kata dengan benda. Kata pena misalnya mempunyai referensi sebuah benda yang memiliki tinta digunakan untuk menulis.
Halliday dan Hasan (1979) membedakan referensi menjadi dua macam, yaitu eksoforis dan endoforis.

§  Referensi eksoforis adalah pengacuan satuan lingual yang terdapat di luar teks wacana.
Contoh: Itu matahari. Kata itu pada tuturan tersebut mengacu pada sesuatu di luar teks, yaitu ‘benda yang berpijar yang menerangi alam ini.’

§  Referensi endofora adalah pengacuan satuan satuan lingual yang terdapat di dalam teks wacana.
Referensi endofora terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
·         Referensi anafora yaitu satuan lingual yang disebut lebih dahulu atau ada pada kalimat yang lebih dahulu, mengacu pada kalimat awal atau yang sebelah kiri.
Contoh:
(a)    Hati Adi terasa berbunga-bunga. (b) Dia yakin  Janah menerima lamarannya.
Kata Dia pada kalimat (b) mengacu pada kata Adi.
Pola penunjukkan inilah yang menyebabkan kedua kalimat tersebut berkaitan secara padu dan saling berhubungan.
·         Referensi katafora yaitu satuan lingual yang disebutkan setelahnya, mengacu pada kalimat yang sebelah kanan.
Karena bajunya kotor, Gani pulang ke rumah.
Pronomina enklitik-nya pada kalimat pertama mengacu pada antaseden Gani yang terdapat pada kalimat kedua.

Baik referensi yang bersifat anafora maupun katafora mengunakan pronomina persona, pronomina penunjuk, dan pronomina komparatif.

Pronomina Persona adalah pengacuan secara berganti-ganti bergantung yang memerankannya.

Dalam bahasa Indonesia, pronominal persona diperinci sebagai berikut.


  
Tunggal
Jamak
Persona pertama
Aku, saya
Kami, kita
Persona kedua
Kamu, engkau, anda
Kalian, kami sekalian
Persona ketiga
Dia, ia, beliau
Mereka

Contoh:
a)   Ida, kamu harus belajar. (referensi bersifat anfora)
b)   Kamu sekarang harus lari! Ayo, Okta cepatlah! (referensi bersifat katafora)

·    Pronomina demonstrasi yaitu pengacuan satual lingual yang dipakai untuk menunjuk. Biasanya menggunakan kata: ini, itu, kini, sekarang, saat ini, saat itu, di        sini, di situ, di sana dan sebagainya.
Contoh:  (a) “Di sini saya dilahirkan. (b) Di rumah inilah saya dibesarkan,” kata Ani.
Pronominal di sini pada kalimat (a) mengacu secara katafora terhadap antesedan rumah pada kalimat (b).
·   Pronomina komparatif adalah deiktis yang menjadi bandingan bagi antasedennya.
Kata-kata yang termasuk kategori pronominal komparatif antara lain: sama, persis, identik, serupa, segitu serupa, selain, berbeda, tidak beda jauh, dan sebagainya.
Contoh:
Dani mirip dengan Ali karena mereka bersaudara.

b.      Substitusi (penggantian)

Penggantian adalah penyulihan suatu unsur wacana dengan unsur yang lain yang acuannya tetap sama, dalam hubungan antarbentuk kata, atau bentuk lain yang lebih besar daripada kata, seperti frasa atau klausa (Halliday dan Hassan, 1979: 88; Quirk, 1985: 863).
Secara umum, penggantian itu dapat berupa kata ganti orang, kata ganti tempat, dan kata ganti sesuatu hal.
1.      Kata ganti orang merupakan kata yang dapat menggantikan nama orang atau beberapa orang.
Contoh: Nurul mengikuti olimpiade matematika. Ia mewakili Kalimantan Selatan.
2.      Kata ganti tempat adalah kata yang dapat menggantikan kata yang menunjuk pada tempat tertentu.
Contoh: Kabupaten Paser merupakan penghasil minyak terbesar di Kalimantan Timur. Di sana banyak terdapat pabrik sawit sebagai alat untuk mengolah buah sawit menjadi minyak mentah.
3.      Dalam pemakaian Bahasa untuk mempersingkat suatu ujaran yang panjang yang digunakan lagi, dapat dilakukan dengan menggunakan kata ganti hal. Sesuatu yang diuraikan dengan panjang lebar dapat digantikan dengan sebuah atau beberapa buah kata.
Contoh:
Pembukaan UUD 1945 dengan jelas menyatakan bahwa Pancasila adalah dasar negara. Dengan demikian, Pancasila merupakan nilai dasar yang normatif terhadap seluruh penyelenggaraan negara Repubublik Indonesia.
Kata demikian pada contoh di atas merupakan kata ganti hal yang menggantikan seluruh preposisi yang disebutkan sebelumnya.

c.       Elipsis (penghilangan/ pelepasan)
Elipsis adalah proses penghilangan kata atau satuan-satuan kebahasaan lain. Elipsis juga merupakan penggantian unsur kosong (zero), yaitu unsur yang sebenarnya ada tetapi sengaja dihilangkan atau disembunyikan.
            Contoh:
Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-   saat yang menentukan dalam penyusunan skripsi ini. (Saya mengucapkan) terima kasih Tuhan.

d.      Piranti Konjungsi (kata sambung)
Konjungsi termasuk salah satu jenis kata yang digunakan untuk menghubungkan kalimat.
Piranti konjungsi dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut.

a.       Piranti urutan waktu
Proposisi-proposisi yang menunjukkan tahapan-tahapan seperti awal, pelaksanaan, dan penyelesaian dapat disusun dengan menggunakan urutan waktu. Berikut ini beberapa konjungsi urutan waktu. Setelah itu, sebelum itu, sesudah itu, lalu, kemudian, akhirnya, waktu itu, sejak itu dan ketika itu.
Contoh:
Ani memberikan sambutan di Kantor Walikota Balikpapan. Setelah itu dia akan berkunjung ke Pulau Kumala.

b.      Piranti Pilihan
Untuk menyatakan dua proposisi berurutan yang menunjukan hubungan pilihan.
Contoh:
Pergi ke Pasar Lama atau ke Pasar Baru.

c.    Piranti Alahan
Hubungan alahan antara dua proposisi dihubungkan dengan frasa-frasa seperti meski(pun) demikian, meski(pun) begitu, kedati(pun) demikian, kedatipun begitu, biarpun demikian, dan biarpun begitu.
Contoh:
Rumi tetap pergi ke Kampus, meskipun hujan.

d.      Piranti Parafrase
Parafrase merupakan suatu ungkapan lain yang lebih mudah dimengerti.
Contoh:
Perlu juga diperhatikan bahwa sejumlah teori dan pendekatan yang ada tersebut, bagi pembaca justru saling melengkapi. Dengan kata lain, apabila tujuan pembaca ingin memahami keseluruhan aspek dalam karya satra, tidak mungkin mereka hanya memiliki satu pendekatan.

e.       Piranti Ketidaserasian
Ketidakserasian itu pada umumnya ditandai dengan perbedaan proposisi yang terkandung di dalamnya, bahkan sampai pada pertentangan.
Contoh:
Nyasar di Martapura, padahal saya sudah melihat penunjuk jalan.

f.       Piranti Serasian
Piranti keserasian digunakan apabila dua buah ide atau proposisi itu menunjukkan hubungan yang selaras atau sama.
Contoh:
 Nia sangat dermawan, demikian juga dengan ibunya.

g.      Piranti Tambahan (Aditif)
Piranti Tambahan berguna untuk menghubungkan bagian yang bersifat menambahkan informasi dan pada umumnya digunakan untuk merangkaikan dua proposisi atau lebih. Piranti konjungsi tambahan antara lain: pula, juga, selanjutnya, dan, di samping itu, tambahan lagi, dan selain itu.
Contoh:
Masukkan kentang dan wortel, selanjutnya beri garam dan gula           secukupnya. Selain itu, kita juga bisa menambahkan brokoli dan jagung       manis.

h.      Piranti Pertentangan (Kontras)
Piranti ini digunakan untuk menghubungkan proposisi yang bertentangan atau kontras dengan bagian lain. Piranti yang biasa digunakan misalnya (akan) tetapi, sebaliknya, namun, dsb.
Contoh:
Perkembangan kognitif anak sudah baik. Namun, harus tetap berlatih agar tidak terjadi penurunan.

Diky sangat nakal, tetapi ia pintar.

i.        Piranti Perbandingan (Komparatif)
Piranti ini digunakan untuk menunjukkan dua proposisi yang menunjukkan perbandingan. Untuk mengatakan hubungan secara eksplisit sering digunakan kata penghubung antara lain: sama halnya, berbeda dengan itu, seperti, dalam hal seperti itu, serupa dengan itu, dan sejalan dengan itu.
Contoh:
Pantun, puisi asli Indonesia, berbeda dengan syair. Pantun mempunyai dua bagian setiap bait, yaitu bagian sampiran dan isi. Sampiran terdapat dua baris pertama, sedangkan isinya terkandung pada dua baris terakhir.

j.        Piranti Sebab-akibat
Sebab dan akibat merupakan dua kondisi yang berhubungan. Hubungan sebab-akibat terjadi apabila salah satu proposisi menunjukkan sebab terjadinya suatu kondisi tertentu yang merupakan akibat atau sebaliknya.
Contoh:
Karena sering membuang sampah ke Sungai akibatnya rumah warga di sepanjang Jl. Yos Sudarso terendam banjir.

k.      Piranti Harapan (Optatif)
Hubungan optatif terjadi apabila ada ide atau proposisi yang mengandung suatu harapan atau doa.
Contoh:
-          Mudah-mudahan kejadian seperti itu tidak terulang kembali.
-          Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca.


l.     Piranti Ringkasan dan Simpulan
Piranti tersebut berguna untuk mengantarkan ringkasan dari bagian yang berisi uraian.
Contoh:
Demikianlah beberapa informasi memngenai manfaat buah apel bagi kesehatan yang telah saya sampaikan pada artikel ini. Jadi, mulai sekarang sering-seringlah mengkonsumsi buah apel.

m.  Piranti Misalan atau Contohan
Contohan atau misalan itu berfungsi untuk memperjelas suatu uraian, khususnya uraian yang bersifat abstrak. Biasanya, kata yang digunakan adalah contohnya, misalnya, umpanya, dsb.
Contoh:
Kata ganti orang pertama tunggal. Contohnya hamba, saya, beta, aku, daku, dan sebagainya.

n.  Piranti Keragu-raguan (Dubitatif)
Piranti tersebut digunakan untuk mengantarkan bagian yang masih menimbulkan keraguan. Kata yang digunakan adalah jangan-jangan, barangkali, mungkin, kemungkinan besar, dan sebagainya.
Contoh:

Mungkin dia sedang sedih.

o. Piranti Konsesi: memang, tentu saja
   Dalam memberikan penjelasan, adakalanya, pengirim pesan mengakui      sesuatu kelemahan atau kekurangan yang terjadi di luar jalur yang      dibicarakan. Pengakuan itu dapat dinyatakan dengan kata memang atau tentu          saja.
Contoh:
Memang benar dia pintar.

p. Piranti Tegasan
Proposisi yang telah disebutkan perlu ditegaskan lagi agar dapat segera dipahami dan di resapi.
Contoh:
Untuk  makan sehari-hari saja susah apalagi untuk membeli rumah.

q. Piranti Jelasan
Piranti ini digunakan untuk memberikan penjelasan yang berupa proposisi (pikiran, perasaan, peristiwa, keadaan, dan sesuatu hal) lanjutan.
Contoh:
Yang dimaksud braille adalah sistem tulisan dan cetakan untuk orang buta.


2.      Piranti Kohesi Leksikal
Secara umum, piranti kohesi leksikal berupa kata atau frasa bebas yang mampu mempertahankan hubungan kohesif dengan kalimat mendahului atau mengikuti. Menurut Rentel (1986: 268-289), piranti kohesi leksikal terdiri atas dua macam yaitu:

a. Reiterasi (pengulangan)
Reiterasi merupakan cara untuk menciptakan hubungan yang kohesif.
Jenis-jenis reiterasi itu meliputi:

1.      Repetisi Ulangan
Repetisi atau ulangan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hubungan kohesif antarkaliamat. Macam-macam ulangan atau repetisi berdasarkan data pemakaian bahasa Indonesia seperti berikut.
a)      Ulangan Penuh
Ulangan penuh berarti mengulang satu fungsi dalam kalimat secara penuh, tanpa pengurangan dan perubahan bentuk.
Contoh:
Buah Apel adalah salah satu buah yang sangat tidak diragukan kelezatan rasanya. Buah Apel memiliki kandungan vitamin, mineral dan unsur lain seperti serat, fitokimian, baron, tanin, asam tartar, dan lain sebagainya.

b)      Ulangan dengan bentuk lain
Terjadi apabila sebuah kata diulang dengan konstruksi atau bentuk kata lain yang masih mempunyai bentuk dasar yang sama.
Contoh:
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan fisafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu.

c)      Ulangan dengan Penggantian
Pengulangan dapat dilakukan dengan mengganti bentuk lain seperti dengan kata ganti.
Contoh:
Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya.

d)     Ulangan dengan hiponim
Contoh:
      Bila musim kemarau tiba, tanaman di halaman rumah mulai         mengering . Bunga tidak mekar seperti biasanya.
2.      Kolokasi
Suatu hal yang selalu berdekatan atau berdampingan dengan yang lain, biasanya diasosiasikan sebagai kesatuan.
Contoh:
UUD 1945 dan Pancasila.
Ada ikan ada air.

D.    Piranti Koherensi

                  Istilah koherensi mengacu pada aspek tuturan, bagaimana proposisi yang terselubung disimpulkan untuk menginterpretasikan tindakan ilokusinya dalam membentuk sebuah wacana. Proposisi-proposisi di dalam suatu wacana dapat membentuk suatu wacana yang runtut (koheren) meskipun tidak terdapat pemerkah penghubung kalimat yang di gunakan.
                 
                  Contoh:
(a)    Guntur kembali bergema dan hujan menderas lebih hebat lagi. (b) Hati Darsa makin kecut.

Biarpun tidak terdapat pemerkah hubungan yang jelas antara kalimat (a) dan (b), tiap pembaca akan menafsirkan makna kalimat (b) mengikuti kalimat (a). Pembaca mengandaikan adanya ‘hubungan semantik’ antara kalimat-kalimat itu, biarpun tidak terdapat pemerkah eksplisit yang menyatakan hubungan seperti itu.

Berikut ini adalah contoh wacana yang mempunyai koherensi baik, tetapi tidak tampak hubungan kohesifnya.

A: “ada telepon.”
B: “saya sedang mandi.”
C: “baiklah.”

Widdowson (1979).

Sebagai sebuah wacana, contoh percakapan di atas tidak dapat pemerkah kohesif. Untuk memahami tuturan tersebut, kita harus menggunakan informasi yang terkandung di dalam ujaran-ujaran yang di ungkapkan dan juga sesuatu yang lain yang dilibatkan dalam penafsiran wacana itu. Percakapan semacam itu akan dapat dipahami dengan baik melalui tindakan-tindakan konvensional yang dilakukan oleh partisipan dalam percakapan itu.


    
                  Daftar Pustaka

                  Rani, Dkk. 2004. Analisis wacana. Malang: Bayumodia Publishing.
                  Mulyana. 2005. Kajian Wacana.Yogyakarta: Tiara Wacana.