Sabtu, 09 Maret 2013

KOHESI DAN KOHERENSI


KOHESI DAN KOHERENSI WACANA

A.    Pengertian Kohesi
         Kohesi adalah hubungan antarbagian dalam teks yang ditandai penggunaan unsur bahasa. Konsep kohesi pada dasarnya mengacu kepada hubungan bentuk, artinya unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh (Mulyana, 2005: 26). Contoh kohesi adalah sebagai berikut.
Listrik mempunyai banyak kegunaan. Orang tuaku berlangganan listrik dari PLN. Baru-baru ini tarif pemakaian listrik naik 25%, sehingga banyak masyarakat yang mengeluh. Akibatnya, banyak pelanggan listrik yang melakukan penghematan. Jumlah peralatan yang menggunakan listrik sekarang meningkat. Alat yang banyak menyedot listrik adalah AC atau alat penyejuk udara. Di kantor-kantor sekarang penggunaan alat penyejuk udara itu sudah biasa saja, bukan barang mewah.
Contoh wacana di atas dikatakan kohesif, karena menggunakan alat kohesi pengulangan, misalnya listrik yang diulang beberapa kali. Namun, paragraf tersebut tidak padu karena bagian-bagian paragraf itu tidak mempunyai kepaduan secara maknawi.

B.  Pengertian Koherensi
      Koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh (Brown dan Yule dalam Mulyana, 2005: 30).
Contoh:

(a)    Buah Apel ( Apple ) adalah salah satu buah yang sangat tidak diragukan kelezatan rasanya. (b) Menurut beberapa penelitian dibalik kelezatan dari rasa buah apel ternyata juga mengandung banyak zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita. (c) Untuk itu sangatlah penting untuk mengkonsumsi buah    apel. (d) Buah Apel memiliki kandungan vitamin, mineral dan unsur lain seperti serat, fitokimian, baron, tanin, asam tartar, dan lain sebagainya. (e) Dengan kandungan zat-zat tersebut buah apel memiliki manfaat yang dapat mencegah dan menanggulangi berbagai penyakit. (f) Berikut ini adalah beberapa manfaat buah apel bagi kesehatan yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber  yaitu buah apel dapat mencegah penyakit asma, dapat mengurangi berat badan,  melindungi tulang, menurunkan kadar kolesterol, mencegah kanker hati, kanker paru-paru, kanker payudara, kanker usus, mengontrol diabetes, membersihkan dan menyegarkan mulut.

Bagian-bagian pada wacana di atas saling mempunyai kaitan secara maknawi, kalimat di atas menjelaskan secara rinci zat-zat dan manfaat yang terkandung dalam buah apel. Wacana itu termasuk wacana padu karena hampir setiap kalimat berhubungan padu secara maknawi dengan bagian lain. Selain itu, wacana itu juga kohesif. Ada beberapa kata yang diulang (buah apel pada setiap kalimat). Jadi, wacana itu harus kohesif dan dan koherensif. Bahkan keterpaduanlah (koherensi) yang harus diutamakan.

C. Piranti Kohesi

      Menurut Halliday dan Hassan (1976), unsur kohesi terbagi atas dua macam, yaitu unsur leksikal dan unsur gramatikal. Piranti kohesi gramatikal merupakan piranti atau penanda kohesi yang melibatkan penggunaan unsur-unsur kaidah bahasa. Piranti kohesi leksikal adalah kepaduan bentuk sesuai dengan kata.

1.      Piranti Kohesi Gramatikal
Pada umumnya, dalam bahasa Indonesia ragam tulis, digunakan piranti kohesi gramatikal seperti berikut.

a.      Referensi
Referensi berarti hubungan antara kata dengan benda. Kata pena misalnya mempunyai referensi sebuah benda yang memiliki tinta digunakan untuk menulis.
Halliday dan Hasan (1979) membedakan referensi menjadi dua macam, yaitu eksoforis dan endoforis.

§  Referensi eksoforis adalah pengacuan satuan lingual yang terdapat di luar teks wacana.
Contoh: Itu matahari. Kata itu pada tuturan tersebut mengacu pada sesuatu di luar teks, yaitu ‘benda yang berpijar yang menerangi alam ini.’

§  Referensi endofora adalah pengacuan satuan satuan lingual yang terdapat di dalam teks wacana.
Referensi endofora terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
·         Referensi anafora yaitu satuan lingual yang disebut lebih dahulu atau ada pada kalimat yang lebih dahulu, mengacu pada kalimat awal atau yang sebelah kiri.
Contoh:
(a)    Hati Adi terasa berbunga-bunga. (b) Dia yakin  Janah menerima lamarannya.
Kata Dia pada kalimat (b) mengacu pada kata Adi.
Pola penunjukkan inilah yang menyebabkan kedua kalimat tersebut berkaitan secara padu dan saling berhubungan.
·         Referensi katafora yaitu satuan lingual yang disebutkan setelahnya, mengacu pada kalimat yang sebelah kanan.
Karena bajunya kotor, Gani pulang ke rumah.
Pronomina enklitik-nya pada kalimat pertama mengacu pada antaseden Gani yang terdapat pada kalimat kedua.

Baik referensi yang bersifat anafora maupun katafora mengunakan pronomina persona, pronomina penunjuk, dan pronomina komparatif.

Pronomina Persona adalah pengacuan secara berganti-ganti bergantung yang memerankannya.

Dalam bahasa Indonesia, pronominal persona diperinci sebagai berikut.


  
Tunggal
Jamak
Persona pertama
Aku, saya
Kami, kita
Persona kedua
Kamu, engkau, anda
Kalian, kami sekalian
Persona ketiga
Dia, ia, beliau
Mereka

Contoh:
a)   Ida, kamu harus belajar. (referensi bersifat anfora)
b)   Kamu sekarang harus lari! Ayo, Okta cepatlah! (referensi bersifat katafora)

·    Pronomina demonstrasi yaitu pengacuan satual lingual yang dipakai untuk menunjuk. Biasanya menggunakan kata: ini, itu, kini, sekarang, saat ini, saat itu, di        sini, di situ, di sana dan sebagainya.
Contoh:  (a) “Di sini saya dilahirkan. (b) Di rumah inilah saya dibesarkan,” kata Ani.
Pronominal di sini pada kalimat (a) mengacu secara katafora terhadap antesedan rumah pada kalimat (b).
·   Pronomina komparatif adalah deiktis yang menjadi bandingan bagi antasedennya.
Kata-kata yang termasuk kategori pronominal komparatif antara lain: sama, persis, identik, serupa, segitu serupa, selain, berbeda, tidak beda jauh, dan sebagainya.
Contoh:
Dani mirip dengan Ali karena mereka bersaudara.

b.      Substitusi (penggantian)

Penggantian adalah penyulihan suatu unsur wacana dengan unsur yang lain yang acuannya tetap sama, dalam hubungan antarbentuk kata, atau bentuk lain yang lebih besar daripada kata, seperti frasa atau klausa (Halliday dan Hassan, 1979: 88; Quirk, 1985: 863).
Secara umum, penggantian itu dapat berupa kata ganti orang, kata ganti tempat, dan kata ganti sesuatu hal.
1.      Kata ganti orang merupakan kata yang dapat menggantikan nama orang atau beberapa orang.
Contoh: Nurul mengikuti olimpiade matematika. Ia mewakili Kalimantan Selatan.
2.      Kata ganti tempat adalah kata yang dapat menggantikan kata yang menunjuk pada tempat tertentu.
Contoh: Kabupaten Paser merupakan penghasil minyak terbesar di Kalimantan Timur. Di sana banyak terdapat pabrik sawit sebagai alat untuk mengolah buah sawit menjadi minyak mentah.
3.      Dalam pemakaian Bahasa untuk mempersingkat suatu ujaran yang panjang yang digunakan lagi, dapat dilakukan dengan menggunakan kata ganti hal. Sesuatu yang diuraikan dengan panjang lebar dapat digantikan dengan sebuah atau beberapa buah kata.
Contoh:
Pembukaan UUD 1945 dengan jelas menyatakan bahwa Pancasila adalah dasar negara. Dengan demikian, Pancasila merupakan nilai dasar yang normatif terhadap seluruh penyelenggaraan negara Repubublik Indonesia.
Kata demikian pada contoh di atas merupakan kata ganti hal yang menggantikan seluruh preposisi yang disebutkan sebelumnya.

c.       Elipsis (penghilangan/ pelepasan)
Elipsis adalah proses penghilangan kata atau satuan-satuan kebahasaan lain. Elipsis juga merupakan penggantian unsur kosong (zero), yaitu unsur yang sebenarnya ada tetapi sengaja dihilangkan atau disembunyikan.
            Contoh:
Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-   saat yang menentukan dalam penyusunan skripsi ini. (Saya mengucapkan) terima kasih Tuhan.

d.      Piranti Konjungsi (kata sambung)
Konjungsi termasuk salah satu jenis kata yang digunakan untuk menghubungkan kalimat.
Piranti konjungsi dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut.

a.       Piranti urutan waktu
Proposisi-proposisi yang menunjukkan tahapan-tahapan seperti awal, pelaksanaan, dan penyelesaian dapat disusun dengan menggunakan urutan waktu. Berikut ini beberapa konjungsi urutan waktu. Setelah itu, sebelum itu, sesudah itu, lalu, kemudian, akhirnya, waktu itu, sejak itu dan ketika itu.
Contoh:
Ani memberikan sambutan di Kantor Walikota Balikpapan. Setelah itu dia akan berkunjung ke Pulau Kumala.

b.      Piranti Pilihan
Untuk menyatakan dua proposisi berurutan yang menunjukan hubungan pilihan.
Contoh:
Pergi ke Pasar Lama atau ke Pasar Baru.

c.    Piranti Alahan
Hubungan alahan antara dua proposisi dihubungkan dengan frasa-frasa seperti meski(pun) demikian, meski(pun) begitu, kedati(pun) demikian, kedatipun begitu, biarpun demikian, dan biarpun begitu.
Contoh:
Rumi tetap pergi ke Kampus, meskipun hujan.

d.      Piranti Parafrase
Parafrase merupakan suatu ungkapan lain yang lebih mudah dimengerti.
Contoh:
Perlu juga diperhatikan bahwa sejumlah teori dan pendekatan yang ada tersebut, bagi pembaca justru saling melengkapi. Dengan kata lain, apabila tujuan pembaca ingin memahami keseluruhan aspek dalam karya satra, tidak mungkin mereka hanya memiliki satu pendekatan.

e.       Piranti Ketidaserasian
Ketidakserasian itu pada umumnya ditandai dengan perbedaan proposisi yang terkandung di dalamnya, bahkan sampai pada pertentangan.
Contoh:
Nyasar di Martapura, padahal saya sudah melihat penunjuk jalan.

f.       Piranti Serasian
Piranti keserasian digunakan apabila dua buah ide atau proposisi itu menunjukkan hubungan yang selaras atau sama.
Contoh:
 Nia sangat dermawan, demikian juga dengan ibunya.

g.      Piranti Tambahan (Aditif)
Piranti Tambahan berguna untuk menghubungkan bagian yang bersifat menambahkan informasi dan pada umumnya digunakan untuk merangkaikan dua proposisi atau lebih. Piranti konjungsi tambahan antara lain: pula, juga, selanjutnya, dan, di samping itu, tambahan lagi, dan selain itu.
Contoh:
Masukkan kentang dan wortel, selanjutnya beri garam dan gula           secukupnya. Selain itu, kita juga bisa menambahkan brokoli dan jagung       manis.

h.      Piranti Pertentangan (Kontras)
Piranti ini digunakan untuk menghubungkan proposisi yang bertentangan atau kontras dengan bagian lain. Piranti yang biasa digunakan misalnya (akan) tetapi, sebaliknya, namun, dsb.
Contoh:
Perkembangan kognitif anak sudah baik. Namun, harus tetap berlatih agar tidak terjadi penurunan.

Diky sangat nakal, tetapi ia pintar.

i.        Piranti Perbandingan (Komparatif)
Piranti ini digunakan untuk menunjukkan dua proposisi yang menunjukkan perbandingan. Untuk mengatakan hubungan secara eksplisit sering digunakan kata penghubung antara lain: sama halnya, berbeda dengan itu, seperti, dalam hal seperti itu, serupa dengan itu, dan sejalan dengan itu.
Contoh:
Pantun, puisi asli Indonesia, berbeda dengan syair. Pantun mempunyai dua bagian setiap bait, yaitu bagian sampiran dan isi. Sampiran terdapat dua baris pertama, sedangkan isinya terkandung pada dua baris terakhir.

j.        Piranti Sebab-akibat
Sebab dan akibat merupakan dua kondisi yang berhubungan. Hubungan sebab-akibat terjadi apabila salah satu proposisi menunjukkan sebab terjadinya suatu kondisi tertentu yang merupakan akibat atau sebaliknya.
Contoh:
Karena sering membuang sampah ke Sungai akibatnya rumah warga di sepanjang Jl. Yos Sudarso terendam banjir.

k.      Piranti Harapan (Optatif)
Hubungan optatif terjadi apabila ada ide atau proposisi yang mengandung suatu harapan atau doa.
Contoh:
-          Mudah-mudahan kejadian seperti itu tidak terulang kembali.
-          Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca.


l.     Piranti Ringkasan dan Simpulan
Piranti tersebut berguna untuk mengantarkan ringkasan dari bagian yang berisi uraian.
Contoh:
Demikianlah beberapa informasi memngenai manfaat buah apel bagi kesehatan yang telah saya sampaikan pada artikel ini. Jadi, mulai sekarang sering-seringlah mengkonsumsi buah apel.

m.  Piranti Misalan atau Contohan
Contohan atau misalan itu berfungsi untuk memperjelas suatu uraian, khususnya uraian yang bersifat abstrak. Biasanya, kata yang digunakan adalah contohnya, misalnya, umpanya, dsb.
Contoh:
Kata ganti orang pertama tunggal. Contohnya hamba, saya, beta, aku, daku, dan sebagainya.

n.  Piranti Keragu-raguan (Dubitatif)
Piranti tersebut digunakan untuk mengantarkan bagian yang masih menimbulkan keraguan. Kata yang digunakan adalah jangan-jangan, barangkali, mungkin, kemungkinan besar, dan sebagainya.
Contoh:

Mungkin dia sedang sedih.

o. Piranti Konsesi: memang, tentu saja
   Dalam memberikan penjelasan, adakalanya, pengirim pesan mengakui      sesuatu kelemahan atau kekurangan yang terjadi di luar jalur yang      dibicarakan. Pengakuan itu dapat dinyatakan dengan kata memang atau tentu          saja.
Contoh:
Memang benar dia pintar.

p. Piranti Tegasan
Proposisi yang telah disebutkan perlu ditegaskan lagi agar dapat segera dipahami dan di resapi.
Contoh:
Untuk  makan sehari-hari saja susah apalagi untuk membeli rumah.

q. Piranti Jelasan
Piranti ini digunakan untuk memberikan penjelasan yang berupa proposisi (pikiran, perasaan, peristiwa, keadaan, dan sesuatu hal) lanjutan.
Contoh:
Yang dimaksud braille adalah sistem tulisan dan cetakan untuk orang buta.


2.      Piranti Kohesi Leksikal
Secara umum, piranti kohesi leksikal berupa kata atau frasa bebas yang mampu mempertahankan hubungan kohesif dengan kalimat mendahului atau mengikuti. Menurut Rentel (1986: 268-289), piranti kohesi leksikal terdiri atas dua macam yaitu:

a. Reiterasi (pengulangan)
Reiterasi merupakan cara untuk menciptakan hubungan yang kohesif.
Jenis-jenis reiterasi itu meliputi:

1.      Repetisi Ulangan
Repetisi atau ulangan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hubungan kohesif antarkaliamat. Macam-macam ulangan atau repetisi berdasarkan data pemakaian bahasa Indonesia seperti berikut.
a)      Ulangan Penuh
Ulangan penuh berarti mengulang satu fungsi dalam kalimat secara penuh, tanpa pengurangan dan perubahan bentuk.
Contoh:
Buah Apel adalah salah satu buah yang sangat tidak diragukan kelezatan rasanya. Buah Apel memiliki kandungan vitamin, mineral dan unsur lain seperti serat, fitokimian, baron, tanin, asam tartar, dan lain sebagainya.

b)      Ulangan dengan bentuk lain
Terjadi apabila sebuah kata diulang dengan konstruksi atau bentuk kata lain yang masih mempunyai bentuk dasar yang sama.
Contoh:
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan fisafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu.

c)      Ulangan dengan Penggantian
Pengulangan dapat dilakukan dengan mengganti bentuk lain seperti dengan kata ganti.
Contoh:
Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya.

d)     Ulangan dengan hiponim
Contoh:
      Bila musim kemarau tiba, tanaman di halaman rumah mulai         mengering . Bunga tidak mekar seperti biasanya.
2.      Kolokasi
Suatu hal yang selalu berdekatan atau berdampingan dengan yang lain, biasanya diasosiasikan sebagai kesatuan.
Contoh:
UUD 1945 dan Pancasila.
Ada ikan ada air.

D.    Piranti Koherensi

                  Istilah koherensi mengacu pada aspek tuturan, bagaimana proposisi yang terselubung disimpulkan untuk menginterpretasikan tindakan ilokusinya dalam membentuk sebuah wacana. Proposisi-proposisi di dalam suatu wacana dapat membentuk suatu wacana yang runtut (koheren) meskipun tidak terdapat pemerkah penghubung kalimat yang di gunakan.
                 
                  Contoh:
(a)    Guntur kembali bergema dan hujan menderas lebih hebat lagi. (b) Hati Darsa makin kecut.

Biarpun tidak terdapat pemerkah hubungan yang jelas antara kalimat (a) dan (b), tiap pembaca akan menafsirkan makna kalimat (b) mengikuti kalimat (a). Pembaca mengandaikan adanya ‘hubungan semantik’ antara kalimat-kalimat itu, biarpun tidak terdapat pemerkah eksplisit yang menyatakan hubungan seperti itu.

Berikut ini adalah contoh wacana yang mempunyai koherensi baik, tetapi tidak tampak hubungan kohesifnya.

A: “ada telepon.”
B: “saya sedang mandi.”
C: “baiklah.”

Widdowson (1979).

Sebagai sebuah wacana, contoh percakapan di atas tidak dapat pemerkah kohesif. Untuk memahami tuturan tersebut, kita harus menggunakan informasi yang terkandung di dalam ujaran-ujaran yang di ungkapkan dan juga sesuatu yang lain yang dilibatkan dalam penafsiran wacana itu. Percakapan semacam itu akan dapat dipahami dengan baik melalui tindakan-tindakan konvensional yang dilakukan oleh partisipan dalam percakapan itu.


    
                  Daftar Pustaka

                  Rani, Dkk. 2004. Analisis wacana. Malang: Bayumodia Publishing.
                  Mulyana. 2005. Kajian Wacana.Yogyakarta: Tiara Wacana.


















28 komentar:

  1. Okta Maria Ulva
    Nim A1B110216

    Dalam materi ini Anda menyajikan mengenai kohesi dan khorensi.Dimana didalamnya telah anda paparkan mengenai kedua materi tersebut, salah satunya mengenai elipsis. Disini anda mengatakan bahwa elipsis merupakan suatu proses penghilangan kata atau pengantian unsur kosong. Yang ingin saya tanyakan hal yang seperti apa yang dapat dihilangkan atau diganti?.....
    Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Elipsis merupakan bagian dari kohesi gramatikal. Menurut saya bagian yang dapat dihilangkan adalah bagian yang tidak terlalu penting dalam sebuah kalimat dan jika bagian itu dihilangkan tidak merubah makna atau maksud kalimat tersebut.

      Perhatikan contoh di bawah ini

      Saya berbelanja di Super Market baru kemarin. Di sana (lengkap) menjual kebutuhan sehari-hari.

      Kabupaten Paser merupakan penghasil minyak terbesar di Kalimantan Timur. Di sana banyak terdapat pabrik sawit (sebagai alat) untuk mengolah buah sawit menjadi minyak mentah.

      Kata yang berada di dalam kurung dapat dihilangkan karena tanpa kata tersebut pendengar atau pembaca sudah tahu dan sudah paham maksudnya. Elipsis itu digunakan untuk menjadikan bahasa lebih singkat, padat, dan mudah dimengerti dengan cepat.

      Hapus
    2. Berarti elipsis itu sendiri difungsikan untuk menjadikan bahasa lebih singkat, padat, dan mudah dimengerti oleh pembcaca?

      Hapus
    3. Iya. Elipsis itu adalah proses penghilangan atau pengganti unsur kosong yang fungsinya telah disebutkan di atas agar tidak terjadi pemborosan kata.

      Hapus
    4. Terimakasih atas penjelasan Anda

      Hapus
  2. SAPERIAH
    NIM A1B110243

    Dalam materi yang Anda sajikan terdapat pernyataan "Wacana itu harus kohesif dan dan koherensif. Bahkan keterpaduanlah (koherensi) yang harus diutamakan".

    Pertanyaan saya, mengapa yang diutamakan itu adalah koherensi? Mengapa bukan kohesi yang diutamakan?

    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Koherensi memiliki keterkaitan makna antara satu bagian dengan bagian yang lain. Sedangkan konsep kohesi mengacu kepada hubungan bentuk secara padu dan utuh. Koherensi lebih diutamakan karena tujuannya agar mitra tuturnya paham dengan apa yang dimaksud penutur. Wacana yang memiliki keterpaduan makna akan lebih mudah dipahami, sedangkan wacana yang memiliki keterpaduan bentuk lebih sulit dipahami oleh mitra tutur.

      Perhatikan contoh di bawah ini!

      1) Contoh wacana koheren tetapi tidak koherensi

      Listrik mempunyai banyak kegunaan. Orang tuaku berlangganan listrik dari PLN. Baru-baru ini tarif pemakaian listrik naik 25%, sehingga banyak masyarakat yang mengeluh. Akibatnya, banyak pelanggan listrik yang melakukan penghematan. Jumlah peralatan yang menggunakan listrik sekarang meningkat. Alat yang banyak menyedot listrik adalah AC atau alat penyejuk udara. Di kantor-kantor sekarang penggunaan alat penyejuk udara itu sudah biasa saja, bukan barang mewah.

      Dilihat dari bentuknya paragraf tersebut memang padu karena topik yang dibahas mengenai listrik dan kata listrik disebutkan berulang-ulang. Namun, dilihat dari maknanya paragraf tersebut tidak padu karena diawal paragraf disebutkan kegunaan listrik tetapi kalimat selanjutnya tidak sesuai dengan kalimat utama yang membahas kegunaan listrik.

      2)Contoh wacana koherensi tetapi tidak kohesi

      A: “ada telepon.”
      B: “saya sedang mandi.”
      C: “beres.”

      Widdowson (1979).

      Dilihat dari bentuknya percakapan itu tidak padu karena tidak ada alat penghubung antarbagian dalam percakapan itu. Namun, dari segi makna percakapan tersebut dapat dipahami oleh pendengar.

      Demikian alasan mengapa yang di utamakan itu adalah koherensi bukan kohesi. Akan lebih baik sebuah wacana itu bersifat kohesif dan koherensif seperti contoh Manfaat Buah Apel yang Saya posting di atas. :D

      Hapus
    2. Maaf maksud saya

      Wacana yang memiliki keterpaduan makna (koherensi) saja tanpa keterpaduan bentuk (kohesi) akan lebih mudah dipahami, daripada wacana yang memiliki keterpaduan bentuk (kohesi)tanpa keterpaduan makna (koherensi) lebih sulit dipahami oleh mitra tutur.

      Hapus
  3. Nurul Hidayah
    NIM A1B110224

    Anda telah menjelaskan tentang kolokasi, yakni suatu hal yang selalu berdekatan atau berdampingan dengan yang lain dan diasosiasikan sebagai sebuah kesatuan. Saya ingin bertanya, di mana letak kesatuan dari contoh yang Anda berikan?
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelum saya menjawab pertanyaan anda saya akan menjelaskan mengenai bagian dari piranti kohesi leksikal ini yaitu kolokasi.

      Kolokasi atau yang juga dikenal dengan nama lain sanding kata merupakan penggunaan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan. Kata-kata yang berkolokasi adalah kata-kata yang dipakai dalam suatu jaringan tertentu. Misalnya, dalam jaringan pendidikan akan digunakan kata-kata yang berkaitan dengan masalah pendidikan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, di dalam jaringan usaha atau pasar akan digunakan kata-kata yang berkaitan dengan permasalahan pasar dan orang-orang yang berperan di dalamnya.
      Contoh kolokasi:
      - Perubahan kurikulum dan guru
      - Guru dan siswa
      - Dosen dan mahasiswa

      Letak kesatuannya dari ketiga contoh itu sama-sama berada pada jaringan pendidikan.



      Contoh:
      - UUD 1945 dan Pancasila.
      - Ada ikan ada air.

      Letak kesatuan dari contoh UUD 1945 dan Pancasila
      Kolokasi itu sendiri juga dikenal dengan nama sanding kata yang tentunya memiliki kesatuan dan keterkaitan diantara keduanya, bertujuan untuk mendukung kepaduan wacana. Seperti contoh UUD 1945 dan Pancasila yang saya temukan dibuku Analisis Wacana karya Abd. Rani dkk, Pancasila itu merupakan dasar Negara dan UUD 1945 sebagai dasar hukum yang keduanya memiliki keterkaitan. Menurut saya letak kesatuan/ keterkaitannya itu ada di dalam UUD 1945 Alinea terakhir yang menyebutkan lima dasar Negara (Pancasila) dan UUD 1945 lahir . Dalam pembahasan di buku-buku pembahasan Pancasila tentu tidak dapat dipisahkan dengan UUD 1945 karena kedua hal itu merupakan suatu kolokasi.

      Letak kesatuan dari contoh ada ikan ada air
      Setiap orang mengenal yang namanya ikan. Ikan tinggalnya di air, tidak ada ikan yang tinggal di darat :D hehehe kecuali ikannya mati. Menurut saya ikan dan air memiliki kesatuan dan saling berkaitan. Letak keterkaitannya itu ada pada ikan yang hidupnya bergantung pada air. Jika air tidak ada maka ikan tidak dapat hidup. Yang jelas keduanya merupakan suatu kolokusi. Itu menurut pendapat saya :D

      Hapus
  4. Raudatul Janah
    NIM A1B110255

    Anda membuatkan contoh pada referensi anafora dan substitusi (penggantian), pada contoh-contoh tersebut sama-sama menggunakan kata ganti. Saya ingin bertanya, apakah contoh referensi anafora dan substitusi memang memiliki kesamaan atau perbedaan? Kalau berbeda, di mana letak perbedaan kedua contoh tersebut? Terima kasih:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penggunaan piranti kohesi yang berupa kata ganti pada dasarnya sama.
      Referensi anafora dan subtitusi (penggantian) memang memiliki kesamaan yaitu sama-sama menggunakan kata ganti dan sama-sama berada pada bagian piranti atau kohesi gramatikal.


      Contoh referensi anafora
      (a)Hati Adi terasa berbunga-bunga. (b) Dia yakin Janah menerima lamarannya.

      Contoh Subtitusi (penggantian)
      (a)Nurul mengikuti olimpiade matematika. Ia mewakili Kalimantan Selatan.



      Perbedaan antara referensi anafora dan subtitusi (penggantian) itu terletak pada bentuknya yang berbeda. Subtitusi menggunakan satuan yang lebih besar dari pada kata, seperti frasa atau klausa. Sedangkan referensi anafora adalah acuan pada kalimat awal dalam bentuk kata.

      mohon maaf dengan contoh subtitusi yang saya buat pada bagian (a), menurut saya itu lebih tepat jika dimasukkan ke dalam referensi anafora.

      Contoh subtitusi yang lebih tepat dari yang sebelumnya saya buat:

      (a)Rasa hormat dan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada pembinmbing skripsi, yaitu Prof. Dr. Jumadi dan Dwi Wahyu Candra Dewi, M. Pd. Atas bimbingan beliau berdua penulis mampu…

      Frasa beliau berdua pada kalimat kedua merupakan bentuk yang menggantikan unsur lain yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu pembimbing skripsi.

      (b)Kabupaten Paser merupakan penghasil minyak terbesar di Kalimantan Timur. Di sana banyak terdapat pabrik sawit sebagai alat untuk mengolah buah sawit menjadi minyak mentah.

      Frasa di sana pada kalimat kedua merupakan bentuk yang menggantikan unsur lain yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu kabupaten Paser.

      Hapus
  5. Norhalimah
    NIM A1B110239

    Pada referensi Anda telah menyebutkan referensi eksoforis adalah pengacuan satuan lingual yang terdapat di luar teks wacana dan contohnya adalah Itu matahari, saya masih kurang mengerti dengan penjelasan satuan di luar teks wacana itu seperti apa? Dan juga saya masih kurang mengerti dengan contoh yang Anda buat pada repetesi ulangan dengan hiponim yaitu, Bila musim kemarau tiba, tanaman di halaman rumah mulai mengering . Bunga tidak mekar seperti biasanya. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Contoh referensi eksoforis
      - Itu matahari
      Penanda referensial matahari, mengacu pada benda yang berpijar yang menerangi alam ini, mataharinya jauh di sana . Maksudnya mataharinya jauh yang acuannya di luar teks.

      Contoh referensi eksoforis yang lain

      - Jika ‘Anda’ berkunjung ke kedai Bunda Flamboyan di Jalan Cendana I Banjarmasin, maka ‘Anda’ akan melewati Asrama Putri Petong.

      Referensi eksofora adalah relasi pengacuan yang acuannya berada atau terdapat di luar bahasa . Dengan kata lain, anteseden (referensi yang diacu) berada di luar bahasa.
      Penanda referensial ‘Anda’, mengacu terhadap pembaca wacana. Pembaca merupakan acuan yang berada di luar bahasa. Berdasarkan ciri-ciri seperti yang disebutkan maka Anda dalam tuturan merupakan penanda referensial yang bersifat eksofora (acuannya berada di luar teks).


      Contoh repetisi ulangan dengan hiponim
      Bila musim kemarau tiba, ‘tanaman’ di halaman rumah mulai mengering . ‘Bunga’ tidak mekar seperti biasanya.

      Hiponimi dapat diartikan sebagai satuan bahasa (kata, frasa, kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain. Unsur atau satuan lingual yang mencakup beberapa unsur atau satuan lingual yang berhiponim itu disebut “hipernim,” atau “superordinat”

      Hipernim >>> tanaman (kata umum)
      Hiponim >>> bunga, pohon jambu, dsb (anggota dari hipernim)

      Contoh

      Okta menyiram bunga di halaman asrama. Karena disiram secara teratur pacar air, mawar, kenanga, dan melati tumbuh subur.

      Hipernimnya bunga dan hiponimnya adalah anggota dari hipernim yaitu pacar air, mawar, dan melati.
      Demikianlah maksud dari repitisi ulangan dengan hiponim.

      Hapus
  6. KUSNIATI ANDRIANI
    NIM A1B110215
    Pada materi Anda dipaparkan piranti kohesi gramatikal digunakan dalam bahasa Indonesia ragam tulis, salah satunya Elipsis adalah satuan-satuan kebahasaan lain. Elipsis juga merupakan penggantian unsur kosong (zero), yaitu unsur yang sebenarnya ada tetapi sengaja dihilangkan atau disembunyikan.
    Contoh:
    Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat- saat yang menentukan dalam penyusunan skripsi ini. (Saya mengucapkan) terima kasih Tuhan.

    Pada contoh Anda di atas yang ada di dalam kurung proses penghilangan katanya. unsurnya ada tetapi sengaja dihlangkan jelaskan mengapa unsurnya sengaja dihilangkan?

    BalasHapus
  7. Unsurnya sengaja dihilangkan karena tanpa frasa 'saya mengucapkan' si mitra tutur sudah dapat memahami pernyataan tersebut bahwa si penutur/ penulis telah mengucapkan syukur kepada Tuhan.

    BalasHapus
  8. Madirah Sri Andini
    NIM A1B109251

    Saya ingin diberikan contoh referensi anafora dan referensi katafora selain contoh yang anda sebutkan di atas. Terima kasih.

    BalasHapus
  9. Contoh referensi anfora

    Dina belum mandi. Dia sibuk memasak.

    Contoh Katafora

    Berdasarkan penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai 'berikut'.

    a. Makanan siap saji yang telah diuji di laboratorium layak dikonsumsi.
    b. Makanan tidak mengandung zat berbahaya.

    Bentuk 'berikut' mengacu atau menunjuk pada hal lain yang dijelaskan sesudahnya, yaitu pada poin (a) dan (b)

    BalasHapus
  10. RUMIATI
    NIM A1B110226
    Istilah koherensi mengacu pada aspek tuturan, bagaimana proposisi yang terselubung disimpulkan untuk menginterpretasikan tindakan ilokusinya dalam membentuk sebuah wacana. Proposisi-proposisi di dalam suatu wacana dapat membentuk suatu wacana yang runtut (koheren) meskipun tidak terdapat pemerkah penghubung kalimat yang di gunakan.
    Saya masih belum mengerti tentang paparan di atas, mohon jelaskan agar lebih mudah dimengerti lagi beserta contohnya yang lain.
    terima kasih

    BalasHapus
  11. Koherensi itu mengacu pada aspek tuturan, ujaran, perkataan. Terselubung maksudnnya di situ adalah ujaran/ ungkapan yang tidak di tuturkan atau dijabarkan langsung, walaupun ungkapan itu terselubung mitra tutur dapat menafsirkannya sendiri.

    Contoh:

    Ketika seseorang di warung makan mengatakan:

    "soto, es jeruk dua."

    Ucapan itu dapat dipahami mitra tutur, walaupun ada ungkapan terselubung di dalamnya yang jika di jabarkan menjadi:

    Soto dua dan es jeruk dua.

    -------------------------------------------------
    Proposisi-proposisi di dalam suatu wacana dapat membentuk suatu wacana yang runtut (koheren) meskipun tidak terdapat pemerkah penghubung kalimat yang di gunakan.

    Ungkapan di dalam wacana bisa saja runtut (koheren) walaupun tidak menggunakan konjungsi/ penghubung seperti contoh di atas.

    Contoh lain:

    Tahun ini mereka bertekat membangun rumah sendiri.
    Sudah lama sekali mereka numpang di rumah saudara.

    Contoh di atas tidak ada penghubngnya namun tetap dapat menjadi suatu wacana yang runtut.

    BalasHapus
  12. Abdul Gani
    NIM A1B108256

    Saya ingin di berikan contoh tentang kohesi dan koherensi, tapi dalam bentuk teks percakapan! Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Contoh Kohesi dan koherensi dalam bentuk percakapan.

      A: “Hei, apa kabar?”
      B: “Oh, kamu. Kabar baik. Tinggal di mana? Masih di tempat yang dulu?”
      A: “Iya, di situlah saya tinggal sampai sekarang.”

      Hapus
  13. Sangat membantu dan bermanfaat, sukses buat Bu Dosen yang punya situs

    BalasHapus
  14. Petir Fenomenal: Terima Kasih atas kunjungannya. haha dikatai Bu Dosen, masih calon guru kok. Aminkan sajalah semoga jadi kenyataan :D

    BalasHapus
  15. Yudi Ananda: kembali kasih... semoga bermanfaat :)

    BalasHapus
  16. Terima Kasih wacananya.. saya Ijin Copas.. salam kenal!

    BalasHapus
  17. puisi jalan cerita hati: Kembali kasih...salam kenal jg :)

    BalasHapus